Oleh
Dr Yosua Noak Douw, S.Sos, M.Si, MA
Setiap tanggal 1 Juni, bangsa Indonesia memperingati Hari Lahir Pancasila sebagai momentum untuk merefleksikan sejauhmana nilai-nilai Pancasila menyatu dalam kehidupan berbangsa dan bernegara di tengah masyarakat yang heterogen.
Peringatan itu juga menjadi momentum bagaimana masyarakat Indonesia dan seluruh elemen (stakeholder) merefleksikan sekaligus membumikan nilai-nilai Pancasila sebagai dasar negara benar-benar hidup dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.
Pancasila tidak boleh berhenti sekadar sebagai slogan atau hafalan, melainkan menjadi pedoman atau panduan yang mewarnai setiap kebijakan dan tindakan pembangunan. Nilai-nilai Pancasila idealnya dijadikan jalan hidup, way of life dalam kehidupan sebagai negara-bangsa (nation state),
Peringatan Hari Lahir Pancasila tahun 2026 mengusung tema Pancasila Pemersatu Bangsa, Fondasi Perdamaian Dunia. Tema besar ini mengingatkan seluruh rakyat Indonesia dari Sabang hingga Merauke dan dari Miangas sampai Pulau Rote makna Pancasila sesungguhnya.
Makna dimaksud ialah bahwa Pancasila memiliki kekuatan untuk mempersatukan keberagaman sekaligus menghadirkan keadilan dan perdamaian (justice and peace). Di tanah Papua, pesan tersebut menemukan relevansinya yang sangat nyata.
Sebagai wilayah yang berada di ufuk timur Indonesia, Papua menyimpan kekayaan budaya, sumber daya alam (SDA) serta keragaman sosial-budaya yang luar biasa besar.
Namun, Papua juga menghadapi berbagai tantangan pembangunan yang membutuhkan kehadiran negara secara nyata dan berkeadilan. Karena itu, membumikan Pancasila di Papua harus diwujudkan dalam seluruh aspek kehidupan.
Dalam tata kelola pemerintahan, nilai Pancasila menuntut hadirnya birokrasi yang profesional, transparan, dan berpihak kepada rakyat. Pemekaran wilayah dan lahirnya daerah otonom baru (DOB) harus menjadi sarana untuk mendekatkan pelayanan publik, bukan sekadar menambah struktur pemerintahan.
Masyarakat harus merasakan manfaat nyata melalui pendidikan, kesehatan, infrastruktur, dan pelayanan yang menjangkau hingga kampung-kampung terpencil. Kehadiran nyata negara melalui aparaturnya dengan program-program pembangunan sangat dirindukan dan bukan sekadar di atas dokumen resmi.
Di bidang pendidikan, Pancasila mengajarkan penghormatan terhadap martabat manusia sebagai ciptaan Tuhan paling mulia. Karena itu, setiap anak Papua berhak memperoleh pendidikan yang berkualitas tanpa memandang letak geografisnya.
Di era digital saat ini, pendidikan juga harus disertai dengan penguatan literasi digital agar generasi muda mampu memanfaatkan teknologi secara bijak, menangkal hoaks, serta mengembangkan potensi lokal untuk bersaing di tingkat nasional maupun global.
Papua juga memiliki kekayaan budaya dan adat istiadat yang menjadi modal penting bagi persatuan dan perdamaian. Nilai gotong royong, penghormatan terhadap sesama, serta tradisi musyawarah dan mufakat yang hidup dalam masyarakat adat sesungguhnya sejalan dengan nilai-nilai Pancasila.
Oleh sebab itu, pembangunan harus memberi ruang yang terhormat bagi lembaga adat, tokoh agama, tokoh perempuan, dan generasi muda untuk ikut berpartisipasi dalam menentukan arah pembangunan daerah.
Di bidang ekonomi, pembangunan harus diarahkan pada upaya untuk mengangkat harkat dan martabat rakyat sebagai kiblat utama setiap kebijakan pembangunan. Kekayaan alam Papua harus menjadi berkat bagi masyarakat yang hidup di atasnya. Pembangunan ekonomi yang berlandaskan Pancasila adalah pembangunan yang membuka kesempatan yang adil, memberdayakan masyarakat lokal, memperkuat usaha rakyat, dan menciptakan kesejahteraan yang merata.
Selain itu, membicarakan Papua tidak dapat dipisahkan dari alamnya. Hutan, gunung, sungai, dan tanah adat merupakan bagian dari identitas masyarakat Papua. Karena itu, pembangunan harus berjalan selaras dengan perlindungan lingkungan hidup. Menjaga alam Papua bukan hanya tanggung jawab ekologis, tetapi juga bentuk penghormatan terhadap generasi masa depan yang akan mewarisi tanah ini.
Pada akhirnya, membumikan Pancasila di Papua berarti menghadirkan keadilan dan kedamaian yang dapat dirasakan oleh seluruh masyarakat. Pancasila harus hidup dalam kebijakan pemerintahan, ruang-ruang pendidikan, kehidupan sosial budaya, aktivitas ekonomi, dan upaya menjaga kelestarian alam secara berkesinambungan (sustainable).
Dari Papua, tanah nun di ufuk timur, tanah di mana semburat mentari pertama kali menyentuh bumi Pertiwi, Papua mengajarkan bahwa persatuan dapat tumbuh di tengah keberagaman, dan pembangunan hanya akan bermakna apabila menghadirkan keadilan bagi semua. Dari Papua untuk Indonesia sekaligus dari Indonesia untuk Indonesia dan dunia.
*) Dr Yosua Noak Douw, S.Sos, M.Si, MA adalah Tokoh Muda Papua dan Doktor lulusan Universitas Cenderawasih, Jayapura, Papua.








